Kenapa Penderita Autoimun Tidak Boleh Divaksin COVID-19?



Penting buat Kamu!!

Buka

Tutup

  • Selain anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun, vaksin COVID-19 juga belum diberikan kepada para penderita penyakit tertentu, termasuk penyakit autoimun.
  • Untuk sementara, cara terbaik untuk melindungi para penderita penyakit autoimun adalah dengan penerapan gaya hidup sehat dan protokol kesehatan 5M seketat mungkin. Hal ini bukan hanya berlaku untuk penderita saja, tetapi juga kita, orang-orang yang hidup atau tinggal di sekitar para penderita penyakit autoimun.
  • Dapatkan paket tes COVID-19 dengan promo menarik dan dokter berpengalaman melalui HDmall;
  • Gunakan fitur chat untuk berkonsultasi dengan apoteker kami secara gratis seputar obat dan pemeriksaan kesehatan yang Anda butuhkan.


Pandemi COVID-19 memang belum usai, tetapi program pemberian vaksin yang tengah berjalan menjadi angin segar. Salah satu vaksin COVID-19 yang digunakan oleh Indonesia adalah vaksin Sinovac yang berasal China. 

Vaksin ini telah mendapat izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga penelitian dan BPOM. Program vaksin COVID-19 di Indonesia dilakukan secara bertahap dan diharapkan dapat selesai dalam 15 bulan ke depan. 

Baca juga: Update Virus Corona (Covid-19). Kapan Corona Berakhir?

Distribusi vaksin COVID-19 di Indonesia

Untuk tahap awal, vaksin COVID-19 ditujukan untuk para tenaga kesehatan dan petugas pelayanan publik yang berisiko tinggi terpapar virus corona. Setelahnya, secara bertahap vaksin COVID-19 diberikan kepada masyarakat luas, termasuk para lansia. Sayangnya, hingga kini vaksin COVID-19 belum direkomendasikan untuk orang berusia di bawah 18 tahun.

Selain itu, ada sejumlah kondisi kesehatan yang juga tidak diperbolehkan melakukan vaksinasi. Beberapa di antaranya adalah penderita penyakit jantung, ginjal, saluran pencernaan kronis, kanker, kelainan darah, dan penyakit autoimun. 

Baca juga: Kupas Tuntas Vaksin COVID-19: Efikasi, Syarat, dan Efek Samping

Mengapa penderita penyakit autoimun belum bisa menerima vaksin COVID-19?

Penelitian lebih jauh tentang pemberian vaksin COVID-19 kepada penderita autoimun harus dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah hal, termasuk pengaruh sistem kekebalan tubuh dan interaksi obat yang mungkin terjadi.

Sistem imun yang terbentuk akibat vaksinasi justru dikhawatirkan akan melemahkan dan menyebabkan penderita autoimun lebih rentan terinfeksi virus corona itu sendiri. Kekhawatiran lainnya adalah obat imunosupresan yang rutin dikonsumsi para penderita autoimun dapat mengganggu efektivitas vaksin.

Vaksin COVID-19 yang beredar di masyarakat saat ini merupakan kandidat vaksin yang telah melalui berbagai tahapan, seperti tahap uji pra-klinis, uji klinis fase 1-3, hingga penetapan penggunaan. Meski berada dalam kondisi darurat, faktor keamanan dan efektivitas vaksin tetap menjadi prioritas utama dalam mengatasi virus corona terutama pada kondisi kesehatan tertentu.



Oleh karena itu, kondisi yang ada saat ini memang belum memungkinkan penderita penyakit autoimun, seperti penderita penyakit Crohn, lupus, psoriasis, multiple sclerosis, rheumatoid arthritis, maupun penderita tiroid, atau penyakit komorbid lainnya untuk mendapatkan suntikan vaksin COVID-19.

Penelitian masih terus diupayakan agar vaksin COVID-19 juga dapat digunakan oleh penderita penyakit autoimun. Perlu dipastikan pula bahwa kandungan dalam vaksin tidak akan menimbulkan reaksi alergi yang parah atau kontraindikasi lain bagi penderita penyakit autoimun.

Mengutip laporan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, vaksin COVID-19 berupa mRNA virus corona mungkin bisa digunakan pada pasien autoimun, tetapi hingga saat ini belum ada data yang tersedia mengenai tingkat keamanan penggunaannya. 

Baca juga: Fungsi Sistem Imun Tubuh dalam Melawan Virus Corona

Bagaimana cara penderita penyakit autoimun agar terhindar dari COVID-19?

Perlu diingat bahwa pemberian vaksin COVID-19 bukan pengobatan, tetapi langkah mengurangi gejala jika terjangkit virus corona. Pada dasarnya, vaksin bekerja untuk mendorong respons sistem imun tubuh dalam melawan virus penyebab penyakit tertentu.

Oleh karena itu, penerapan protokol kesehatan 5M tetap harus dijalankan secara ketat. Langkah-langkah tersebut sangat penting karena pandemi COVID-19 belum berakhir.

Baca juga: Protokol Kesehatan Covid 19 dalam Menghadapi Risiko Paparan Virus Corona


Referensi

Buka

Tutup